Minggu, 26 September 2010

Alasan Mempertahankan Hubungan

Ada wanita yang mengalami tekanan batin dalam sebuah hubungan. Ada juga yang kekasihnya mendua. Bahkan, ada yang menjadi korban penganiayaan oleh pasangannya. Tapi, mengapa banyak dari mereka yang masih rela mempertahankan hubungan dalam kondisi tragis semacam itu?

Delapan alasan ini mungkin yang mendasari banyak orang rela bertahan dalam hubungan tanpa cinta.


1. Tidak bisa lepas
Kondisi ini seringkali dialami mereka yang mengalami hubungan putus-sambung. Meski pernah merasa sakit hati yang begitu menyayat, namun akhirnya mudah rujuk dan memaafkan. Terkadang, hubungan ini dapat memiliki hasil yang baik, tapi banyak pula yang berakhir menyedihkan.

2. Takut Ditinggalkan
Sejumlah orang merasa takut berpisah karena memiliki pengalaman atau aib bersama. Mereka takut apakah setelah putus, si dia akan membeberkan semua kejelekan atau perilaku buruk yang pernah dilakukan bersama.

3. Dia terlalu mempesona
Wajah tampan memang melenakan. Memiliki pasangan rupawan terkadang menjadi kebanggaan tersendiri dan menambah percaya diri. Banyak orang takut putus karena khawatir tak akan mendapat pengganti setampan itu. Meski hubungan diwarnai kasus-kasus menyakitkan yang ‘memakan hati’, banyak orang rela bertahan di dalamnya.

4. Alasan sosial
Beberapa wanita tinggal dalam hubungan yang menyakitkan karena alasan sosial. Ini seringkali terjadi ketika pasangan itu teman berbagi yang sama. Mereka merasa bahwa jika mereka mengakhiri hubungan mereka, mereka harus mendapatkan teman baru.
 
5. Takut stres
Wanita itu tidak bisa keluar dari hubungan itu karena dia takut apa yang akan terjadi jika dia pergi. Banyak yang terpancing imajinasi dalam film-film, di mana banyak orang patah hati sulit mengendalikan emosinya dan akhirnya celaka.

6. Tak ada tempat bersandar
Wanita tidak memiliki tempat untuk pergi dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak punya rumah dan tidak tahu ke mana harus berpaling. Selalu ada tempat penampungan untuk wanita yang dipukuli dan disiksa yang dapat Anda jadikan sebagai tempat berlindung.

7. Wanita mudah merasa salah
Dari waktu ke waktu, wanita berpikir bahwa mereka menyebabkan masalah. Mereka pikir alasan suami atau pacar mereka berselingkuh adalah karena mereka tidak menghabiskan cukup waktu dengan keluarga ataupun sang pacar, atau bisa juga tak becus mengurus keluarga. Oleh karena itu, banyak wanita mengakui kesalahannya dalam setiap hubungan.

8. Anak
Kita semua tahu bahwa salah satu alasan utama wanita tetap bertahan dalam hubungan jika ada rasa sakit adalah karena anak. Mereka umumnya tidak ingin anak-anak mereka menjadi korban perceraian. Dan perlu hati-hati saat memutuskan perceraian, karena cerai bisa membuat trauma pada anak-anak.

Jumat, 17 September 2010

Anything I'm Not by Lenka



I will never be
I will never be tall
No
And I will never be
Never ever
Be sure of it all
Oh, why is the world
So cruel to me
When all
All I ever want to be
Is anything I'm not

Gimme a break
A little escape
I am so tired
Of being me
I wanna be free
I wanna be new
And different
Anything I'm not
I'm not

I will never be
I will never be you
No
I will always be
I will always be me
That I know
But oh
Even though
I'm happy being me
I want to get away
From all
This harsh reality
Oh

Gimme a break
A little escape
I am so tired
Of being me
I wanna be free
I wanna be new
And different
Anything I'm not

Yeah
Gimme a break
A little escape
I am so tired
Of being me
I wanna be free
I wanna be new
And different
Anything I'm not
Anything I'm not
Oh
Anything I'm not

Gimme a break
A little escape
I am so tired
Of being me
I wanna be free
I wanna be new
And different
Anything I'm not

Yeah
Gimme a break
A little escape
I am so tired
Of being me
I wanna be free
I wanna be new
And different
Anything I'm not
Anything I'm not
Anything I'm not
Anything I'm not
Anything I'm not

Kisah Seorang Gadis Menjajakan Keperawanannya

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.



Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? ”

” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”

” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..

” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”

” Maksud, bapak? ”

” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”

” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.

” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”

” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

” Apakah anda serius? ”

” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.

” Berapa tarif yang anda minta? ”

” Setinggi-tingginya. .’ ‘

” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

” Saya masih perawan ”

” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..

Pikirnya

” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”

” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”

” Kalau tidak terbukti? ”

” Tidak usah bayar …”

” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”

” Cobalah. ”

” Berapa tarif yang diminta? ”

” Setinggi-tingginya. ”

” Berapa? ”

” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”

” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ”

” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”

” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

” Saya ingin yang lebih tinggi…”

” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”

” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”

” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”

” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.
Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …

” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.

” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.

” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.

” Rp.. 6 juta, tuan ”

” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

” Bagaimana? ” tanya pria itu.

”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”

” Tentu! ”

” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”

” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.

Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah.

Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.

Wajah pria itu nampak masam seketika

” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.

Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … Huh ”

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

“Dia masih perawan..”

Pria itu mendekati petugas satpam itu.

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”

” Benar, pak. ”

” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”

” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”

” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …

” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”

” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”

” Maksud kamu? ”

” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”

” Hanya itu …”

” Ya …! ”

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

” Siapa nama kamu? ”

” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu

” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”

”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”

” Ada ! ” Kata pria itu seketika.

” Sebutkan! ”

” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.

Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

” Saya tidak mengerti …”

” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”

” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”

” Apakah uang itu kurang? ”

” Lebih dari cukup, pak … ”

” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”

” Silahkan …”

” Mengapa kamu begitu beraninya … ”

” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …
Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu.
Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”

” Keyakinan apa? ”

” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”

” Kesadaran… ”

.. . .

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

” Kamu sudah pulang, nak ”

” Ya, bu … ”

” Kemana saja kamu, nak … Huh”

” Menjual sesuatu, bu … ”

” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang
gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan
….

” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata
kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”



Sumber: Kaskus.us

PELACUR

PELACUR = PENGORBANAN

Kata itu mungkin ga aneh lagi di dengar. Kata 'pelacur' bukanlah sebuah hobi, bukan jga profesi, ataupun pekerjaan.
Namun, itu adalah sebuah pengorbanan.
Sebut saja pelacur itu 'wanita malam'. Bukan setiap wanita yang keluar malam sebutan nya pelacur.
Apa kalian tau kenapa saya menyebutkan 'pelacur' itu sebuah 'pengorbanan'?
Saya dapat mengatakan pelacur adalah sebuah pengorbanan karena setiap wanita itu tidak ada yang mau menjual harga dirinya!
Mereka melakukan itu karena terpaksa. Bukan karena kepuasan!
Ada sesuatu yang mendorong mereka untuk itu. Mungkin karena mereka merasa hanya dirinyalah yang mahal harganya. Dan mereka merasa, kalau mereka tidak memiliki sesuatu yang berharga lagi selain dirinya.
Masalah ekonomi yang bisa mendorong mereka untuk menjual harga dirinya.
Mereka sangat percaya, dengan menjual sesuatu yang mahal harganya (dirinya) mereka bisa terlepas dari masalah ekonomi. Mungkin itu benar. Mereka memang terlepas dari itu.
Apa kalian tau? Betapa hina nya wanita yang menjual dirinya di depan mata orang lain?
Mereka sadar, kalau mereka sangat hina. Namun mereka rela di anggap hina demi menafkahi keluarga mereka.
Tapi sesunggung, hatinya mereka ga sehina itu.
Mereka sangat merasa terpukul atas pengorbanan mereka.
Batin mereka tersiksa, jiwa mereka goyah!
Kalian tau kenapa mereka tetap menjual diri mereka, padah mereka sangat merasa tersiksa?
Itu semua untuk menafkahi keluarga mereka. Untuk membeskan mereka dari masalah ekonomi mereka.
Menjadi seorang pelacur bukanlah citacita dan keinginan mereka.
Melainkan demi keluarga mereka.
Jadi, jangan anggap seorang pelacur itu rendah derajatnya.
Karena mereka adalah seorang pahlawan di keluarga mereka. Walau yang mereka lakukan itu salah.
Dan saya mengatakan bahwa pelacur = pengorbanan :')

Selasa, 14 September 2010

Kisah Yang Tak Terlupa

apa kamu sudah bisa sadar? kalo ternyata bukan cuman kamu yang ngerasain rasa sakit itu. tapi aku juga@ dan seharusnya kamu bisa lebih sadar lagi. kalo ternyata yang lebih ngerasain sakitnya itu aku!

aku yang ga pernah tau apa masalah kalianpun juga ikut ngerasain sakitnya. sakitnya di bohongin dan sakitnya di hianatin.

jangan dong kamu yang selalu nyalah-nyalahin aku. bukan aku yang egois. tapi KALIAN! kamu berdua!

kamu, yang sudah aku percaya buat jaga hati u, tega banget nyakitin aku. Dia, yang udah aku percaya untuk tau semua tentang aku dan kamu tega nyakitin aku juga.

kalian berdua memang diam! namun diam kalian yang ngebuat aku sakit!

saat itu, kalian bukanlah seperti seorang manusia, namun kalian terlihat sangat lebih rendah!

kalian yang ngebuat aku punya hasrat benci! kalian yang ngebuat aku punya rasa ingin dendam!

namun inilah aku, aku terlalau lemah untuk membalas perlakuan kalian. aku ga bisa kembali buat nyakitin kalian.

walau aku tau, Tuhan telah membalas rasa sakit ku itu. dan kalian sadar? rasa sakit yang kalian terima sekarang itu belum bisa mengobati sakit ku yang dulu!

tapi aku tetap berterima kasih :)

makasih buat kamu yang mau berubah :) makasih buat dia yang mulai pergi dari hidup mu :)

tapi maav, aku ga bakal bisa tenang, sebelum dia benar-benar PERGI dari hidup mu :')





nb : buat kamu dan dia yang sudah ngebuat aku bisa nangis semalam, dan suda ngebuat aku memiliki rasa benci